Berita Hawzah – Mun‘im, seorang dokter Palestina, dalam peringatan Hari nakba menyampaikan laporan-laporan pahit dan menyedihkan tentang kondisi rakyat Palestina dari masa lalu hingga kini.
Tahun 1948 adalah tahun nakba; pada tahun itu, separuh penduduk Palestina historis terusir, ribuan orang lainnya dibunuh dan dibantai, serta ribuan lainnya terluka. 15 Mei; hari ketika Zionis menulis sejarah dengan kejahatan, puluhan kota bersejarah Palestina dihancurkan. Tragedi ke-78 yang melukai Palestina dan umat Islam untuk selamanya. Pada masa itu, Zionis menuliskan di dinding Masjid al-Aqsa: “nakba lain sedang dalam perjalanan.” Namun kenyataannya, bagi kami nakba tidak pernah berakhir; hanya bentuknya saja yang berubah.

Tahun 1917, ketika kolonialisme Inggris menjejakkan kaki di Palestina, jumlah penduduk Yahudi di Palestina historis kurang dari 50 ribu orang. Namun Inggris dengan rencana liciknya memfasilitasi migrasi Yahudi dari seluruh dunia ke Palestina. Hingga tahun 1948, angka itu mencapai 460 ribu orang. Artinya, dalam waktu kurang dari tiga dekade, jumlah Yahudi hampir sepuluh kali lipat. Sesungguhnya ini bukan “migrasi”; melainkan “penggantian penduduk” dan persiapan untuk genosida.
Selama tahun-tahun itu, Inggris dan kekuatan kolonial dunia lainnya mendirikan kelompok-kelompok teroris Zionis seperti Irgun, Haganah, dan Stern dengan dukungan senjata dan dana. Kelompok-kelompok ini pada tahun 1947 memulai operasi pembersihan etnis. Mereka menyerang kota-kota seperti Yafa, Haifa, Safad, dan Beersheba, membakar rumah-rumah, meruntuhkan dinding di atas kepala penduduk, dan membunuh ribuan warga sipil. Sementara itu, orang-orang Palestina tidak diizinkan memiliki senjata. Inggris telah merampas segala bentuk persenjataan dari mereka. Ayah dan kakek kami hanya dengan cangkul, sekop, dan senapan berburu sederhana menghadapi Zionis yang bersenjata lengkap. Namun berhadapan dengan meriam, tank, dan pesawat yang didukung Inggris, mereka tak berdaya. Itu bukanlah perang; melainkan eksekusi massal dengan pengawasan langsung kekuatan kolonial.
Akibat kejahatan ini, lebih dari 700 ribu orang Palestina – setengah dari penduduk Palestina – terusir. Lebih dari 400 desa dan kota bersejarah hancur total atau dikosongkan. Ribuan orang dibunuh dan dibantai. Satu bangsa diusir dari rumahnya; hanya karena mereka Arab dan Muslim. Hingga hari ini, setelah 78 tahun, nakba tidak pernah berakhir, melainkan terus berlangsung secara nyata di depan mata dunia.
Kakek saya berasal dari Yafa. Pada tahun 1948, ketika kelompok Zionis menyerang Yafa, membakar rumah-rumah, dan membunuh orang-orang terkasih di depan matanya, ia tak punya pilihan selain melarikan diri dan menjadi pengungsi di Jalur Gaza; tempat yang kini kembali menjadi abu di bawah bom ideologi genosida yang sama. Sepanjang tahun-tahun pengungsian di Gaza, kakek saya tak pernah lelah berbicara tentang Yafa. Dengan kerinduan dan hasrat yang tak terbatas, ia bercerita tentang kebun jeruknya, jalanan berbatu Yafa, lautnya, tetangganya, dan rumah yang kuncinya ia simpan di dadanya hingga akhir hayat. Setiap malam sebelum tidur, ia menanti saat kembali ke rumahnya. Setiap tahun pada 15 Mei, ia berkata: “Mungkin tahun ini…”. Namun saat itu tak pernah tiba. Kakek saya wafat dalam pengungsian, tanpa pernah sekali pun merasakan tanah Yafa lagi di bawah kakinya.
Masalah Palestina setelah “Badai al-Aqsa”: Apakah badai baru sedang menanti?
Operasi Badai al-Aqsa menghidupkan kembali cita-cita Palestina yang hampir terlupakan di mata dunia. Namun setelah sekitar tiga tahun dan gencatan senjata semu di Jalur Gaza, forum politik dan media dengan arahan tersembunyi semakin jarang membahas masalah Palestina. Banyak pertanyaan dan keraguan tentang nasib rakyat Gaza tetap tak terjawab di benak masyarakat dunia.
Dalam perang Amerika dan Israel melawan Iran, absennya perlawanan Palestina di samping kelompok-kelompok resistensi lain menimbulkan pertanyaan di kalangan rakyat: apakah kelompok perlawanan Palestina sedang membangun kembali kekuatan mereka, ataukah kondisi damai semu dan gencatan senjata rapuh di Gaza membuat mereka tampak terikat?
Hari ini, perampasan rumah dan ladang rakyat, penyiksaan, serangan brutal, serta penodaan terhadap Masjid al-Aqsa masih terus berlangsung di bawah senyapnya media dan sibuknya forum politik dengan perang Amerika–Israel terhadap Iran.
Baca juga:
Hizbullah; Kekuatan yang Tidak Akan Lenyap
Baru-baru ini, Zionis penjajah menyerang halaman Masjid al-Aqsa dan menodai kesuciannya. Lebih dari 1.400 pemukim Zionis, dengan perlindungan tentara pendudukan, memasuki kompleks Masjid al-Aqsa. Dalam pertemuan itu, seperti biasa, kehormatan Masjid al-Aqsa dinodai dan Nabi Muhammad (saw) dihina oleh anak-anak mereka.
Di Gaza, meski ada klaim gencatan senjata, Zionis kapan saja bisa melakukan teror dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina, baik komandan, perempuan, maupun anak-anak. Pembunuhan terbaru atas ‘Izz al-Din al-Haddad, salah satu komandan Brigade al-Qassam, terjadi dalam konteks ini.
Sementara itu, akses terhadap makanan dan obat-obatan sangat terbatas. Otoritas kesehatan Gaza memperingatkan tentang keselamatan dan nyawa pasien. Berdasarkan informasi sumber terpercaya, 46% obat-obatan esensial, 66% peralatan medis, dan 84% kebutuhan laboratorium serta bank darah sudah habis. Anak-anak Palestina menjadi korban utama perang Gaza dan kelalaian masyarakat internasional terhadap masalah Palestina. PBB menyatakan: sejak tahun 2025, rata-rata setiap minggu satu anak Palestina di Tepi Barat gugur syahid oleh tangan pasukan Zionis.
Penyerangan terhadap jamaah shalat di Tepi Barat juga menjadi hal biasa bagi Zionis. Dalam sebuah video terlihat tentara pendudukan tiga kali berturut-turut menghalangi pelaksanaan shalat di desa Tana, timur Nablus (Tepi Barat). Namun para jamaah dengan keteguhan hati akhirnya berhasil menunaikan shalat.
Mun‘im menulis tentang video pengungsian rakyat Palestina:
“Aku ingin mempublikasikan foto-foto arsip dari tahun nakba dan kejahatan Zionis pada 1948 di kanal, tetapi hari ini aku melihat sebuah film yang membuatku berubah pikiran.
Dalam film itu ditampilkan momen pengusiran dua keluarga Palestina dari kota al-Quds; rumah yang merupakan warisan puluhan generasi leluhur mereka. Zionis memaksa mereka meninggalkan rumahnya agar sebagai gantinya sebuah keluarga Yahudi tanpa akar, yang datang dari Amerika Selatan atau Eropa, ditempatkan di kota suci dan bersejarah al-Quds.”
nakba sudah berlangsung selama 78 tahun dan tidak pernah berhenti barang sehari pun. Selama 78 tahun mereka berusaha memusnahkan kami, bangsa Palestina. Desa-desa, kota-kota, pohon-pohon telah mereka hancurkan, manusia Palestina mereka binasakan, namun mereka tidak pernah mencapai tujuan. Ke mana pun mereka pergi, batu-batu dan pepohonan letih di tanah ini tetap meneriakkan ke-Palestina-annya. Palestina masih hidup di hati dan pikiran kami, rakyat yang tertindas.
Setiap hari, ratusan keluarga di Tepi Barat, al-Quds, dan wilayah selatan Palestina yang diduduki dipaksa keluar dari rumah mereka, dikenai denda berat, dan menjadi pengungsi.
Kini kami yang tersisa; generasi ketiga nakba. Kami yang di al-Quds menorehkan syahadah, di Gaza rumah-rumah kami dibombardir, di Tepi Barat tanah-tanah kami dirampas. Kami yang setiap hari merasakan nakba dengan daging dan darah kami; generasi yang untuk pertama kalinya dalam Operasi Badai al-Aqsa berhasil memasuki tanah-tanah kami yang diduduki dan memberikan pukulan keras serta menyakitkan kepada para penjajah; generasi yang meyakini kebebasan Palestina sudah dekat dan akan berjuang demi tujuan itu hingga tetes darah terakhir.
Meski kejahatan rezim Zionis terus berlanjut di Palestina—dari vonis eksekusi terhadap para tahanan tanpa proses hukum yang adil, pengungsian paksa, hingga serangan berulang terhadap rakyat tertindas Palestina—muncul pertanyaan: dengan berlalu hampir tiga tahun sejak dimulainya Operasi Badai al-Aqsa, apakah umat Islam harus menunggu kelanjutan kejahatan-kejahatan ini, ataukah badai baru akan datang yang mencabut dari akarnya hegemoni rapuh rezim perampas al-Quds, yang dalam perang terakhir dengan Iran lebih rapuh dari sebelumnya?
Komentar Anda